Mitra Rakyat
Saturday, January 31, 2026, Saturday, January 31, 2026 WIB
Last Updated 2026-01-31T16:05:33Z
Padang

Isu Kepemimpinan Kepala Balai Jadi Sorotan, Enam Pejabat BPJN Sumbar Ajukan Mutasi

banner 717x904


MR.com, PADANG |  Suasana di lingkungan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat tengah bergejolak. Enam pejabat strategis di balai jalan itu dikabarkan mengajukan mutasi kerja ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumah Rakyat (PUPR). Langkah ini memunculkan pertanyaan, ada apa di balik gelombang pindah tugas yang nyaris serempak tersebut?


Informasi yang berkembang di internal menyebutkan, keputusan enam pejabat itu bukan semata soal karier atau kebutuhan organisasi. Ada faktor lain yang lebih sensitif, yaitu, gaya kepemimpinan Kepala BPJN Sumbar saat ini yang disebut-sebut menjadi pemicu utama.


Mutasi dalam birokrasi bukan hal baru. Namun, perpindahan yang diajukan oleh enam pejabat sekaligus, apalagi mereka berada pada posisi strategis dinilai tidak biasa.


Seorang sumber yang mengaku mengetahui situasi internal BPJN Sumbar mengatakan, gelombang pengajuan mutasi itu terjadi dalam suasana kerja yang “tidak nyaman”. Ia menyebut hubungan antara pimpinan dan sejumlah pejabat struktural memburuk dalam beberapa waktu terakhir.


“Ini bukan sekedar rotasi biasa. Ada ketegangan yang sudah lama menumpuk,” kata sumber itu kepada wartawan, meminta namanya tidak disebutkan karena khawatir mendapat tekanan, pada Sabtu (30/1/2026) di Padang.


Menurut sumber yang sama, gaya kepemimpinan Kepala BPJN Sumbar belakangan dinilai terlalu keras, minim komunikasi dan cenderung menekan. Akibatnya, sejumlah pejabat merasa ruang profesional mereka menyempit.


Ada pula informasi yang menyebutkan munculnya pola kerja yang dianggap tidak sehat, keputusan sepihak, teguran terbuka, hingga dinamika internal yang membuat banyak pihak memilih “menyelamatkan diri” dengan mencari tempat baru.


Beberapa pegawai menggambarkan situasi kantor sebagai “panas”, terutama ketika menyangkut proyek-proyek strategis dan penanganan jalan nasional yang menjadi tanggung jawab balai.


“Bukan hanya soal target kerja. Tapi cara memperlakukan orang,” ujarnya.


Kekhawatiran berikutnya adalah soal dampak. BPJN merupakan institusi penting yang mengurusi konektivitas jalan nasional, termasuk pemeliharaan rutin, peningkatan kapasitas jalan, hingga penanganan bencana.


Jika enam pejabat strategis benar-benar pindah, proses koordinasi teknis dan administratif berpotensi terganggu. Apalagi, sejumlah program kerja biasanya berjalan ketat dengan tenggat waktu.


“Kalau pejabat kunci pergi, pasti ada efek domino. Adaptasi pejabat baru butuh waktu, sementara pekerjaan tetap jalan,” kata Ir. Sutan Hendy Alamsyah, seorang pengamat infrastruktur pada hari yang sama di Padang.


Dia menilai pengajuan mutasi serentak itu merupakan sinyal kuat bahwa ada problem manajemen internal yang tidak bisa dianggap sepele. Mutasi yang diajukan dari bawah itu bukan perintah organisasi,  tetapi kerap dibaca sebagai bentuk protes diam-diam.


“Ini semacam voting dengan kaki. Mereka memilih pergi,” kata Sutan Hendy.


Situasi ini juga memunculkan spekulasi, apakah ada tekanan psikologis, konflik internal, atau perbedaan pandangan dalam pengelolaan proyek?



Alumni Universitas Indonesia itu menyebut, Kementerian PU perlu turun tangan untuk memastikan stabilitas organisasi di daerah. Apalagi, BPJN memegang peran vital dalam memastikan layanan publik di sektor jalan tetap berjalan.


Jika benar kepemimpinan menjadi pemicu, evaluasi bukan hanya soal kinerja teknis, tapi juga iklim kerja dan manajemen SDM.


“Yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan pejabat, tapi kelancaran layanan publik,” pungkas Sutan Hendy.


Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi saat dikonfirmasi media via telpon terkait hal tersebut mengakui belum mendaptakan iniformasi." Saya belum mendapatkan infonya," jawab Kepala Balai itu singkat.


Sementara itu, suasana internal balai disebut masih tegang. Para pegawai memilih berhati-hati berbicara, sementara rumor berkembang dari ruang rapat hingga lapangan proyek.


Yang jelas, enam pejabat strategis itu telah mengambil langkah yang jarang terjadi, meminta pindah dari pusat pusaran kerja mereka sendiri.


Dan ketika orang-orang penting memilih keluar, pertanyaannya bukan lagi siapa yang pergi, melainkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam.


Redaksi masih upaya mengumpulkan data terkait hal tersebut dan upaya konfirmasi pihak terkait lain hingga berita ini diterbitkan. Tim


Editor  : Redaksi

Terkini