MR.com, Padang | Sesi makan siang di sebuah resto di Kota Padang, Rabu, 21 Oktober, itu sejatinya menjadi ajang perpisahan sederhana. Namun di balik gestur hangat perpisahan Kombes Pol Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq bersama puluhan jurnalis, tersirat potret klasik dinamika penegakan hukum dan manajemen lalu lintas di Tanah Minang, sebuah kemitraan taktis antara kepolisian dan media di tengah ancaman kerawanan jalan raya.
Reza kini resmi menanggalkan jabatannya sebagai Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Barat untuk mengemban tugas baru di Polda Lampung. Selama masa dinasnya, Ranah Minang bukan sekedar wilayah hukum biasa, melainkan medan ujian berat ketahanan lalu lintas.
"Mobilitas kendaraan yang tinggi, karakter jalan yang ekstrem, serta potensi gangguan perjalanan yang intens menuntut kesiapan taktis personel," ujar Reza saat merefleksikan perjalanannya.
Bayang-bayang Kerawanan Medan Ekstrem
Reza tak menampik bahwa benang kusut lalu lintas Sumbar berada di celah-celah geografisnya yang rawan. Jalur Padang–Solok via Sitinjau Lauik—sebuah tanjakan dan turunan curam yang kerap memangsa korban serta jalur vital Padang–Bukittinggi di kawasan Lembah Anai, menjadi titik krusial yang menguras energi Ditlantas.
Lembah Anai, misalnya, bukan cuma urusan kemacetan biasa. Sebagai urat nadi logistik dan penumpang antar-kabupaten/kota, satu titik lumpuh di kawasan ini beresiko melumpuhkan rantai pasok ekonomi daerah.
Di sinilah Reza menekankan pentingnya ekosistem informasi publik. Kecepatan dan akurasi pemberitaan media mengenai rekayasa arus, kemacetan, hingga bencana longsor di jalur-jalur rawan menjadi alat navigasi darurat bagi masyarakat pengendara.
Tanpa penyebaran informasi yang cepat dan berimbang dari pers, manajemen krisis lalu lintas di lapangan akan gagap.
Meneruskan Tongkat Estafet Menjadi Tantangan Baru Kombes Kukuh
Peralihan komando kini bergeser. Kombes Pol Kukuh Priyo Taruno, mantan Direktur Samapta Polda Banten, resmi dipercaya menunggangi kemudi Ditlantas Polda Sumbar.
Bagi Kukuh, perpindahan dari Banten ke Sumatera Barat bukan sekedar rotasi administratif biasa, melainkan ujian adaptasi terhadap lanskap lalu lintas yang jauh lebih dinamis.
Tugas berat menantinya, mulai dari menekan angka kecelakaan di titik-titik rawan, menertibkan kepatuhan pengendara, hingga mengomandoi respons cepat penanganan armada mogok atau kecelakaan di jalur sempit.
"Dengan karakteristik wilayah yang beragam, kepemimpinan Ditlantas butuh kesiapan lapangan yang responsif. Koordinasi lintas instansi dan sinergi bersama media adalah kunci agar dampak kemacetan atau hambatan jalan bisa diminimalkan," kata Kukuh.
Menagih JANJI Responsif di Jalan Raya
Bagi insan pers dan publik Sumatera Barat, suksesi pimpinan ini membawa harapan sekaligus tuntutan evaluatif. Kerjasama antara pers dan kepolisian yang dibangun Reza menjadi fondasi, namun kepemimpinan Kukuh akan diuji langsung oleh kenyataan di lapangan.
Kini, Reza melangkah ke Lampung membawa pengalaman dari jalur-jalur ekstrem Minangkabau. Sementara itu, publik Sumatera Barat menantikan sejauh mana kepemimpinan Kukuh Priyo Taruno mampu menghadirkan terobosan nyata yang tak sekedar rutin menjaga jalanan, tetapi menghadirkan pelayanan lalu lintas yang benar-benar responsif, aman, dan menyelamatkan nyawa.
Editor : Chairur Rahman (Wartawan Madya)
