MR.com, Pasaman Barat | Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi tambang galian C di Sumatra Barat terus menjadi sorotan. Bergerak cepat merespons kondisi tersebut, Kepolisian Resor (Polres) Pasaman Barat langsung turun tangan melakukan aksi nyata dengan "menyulap" lahan kritis bekas tambang menjadi kawasan hijau.
Rabu (24/6), aparat kepolisian melakukan penanaman pohon massal di sepanjang aliran sungai Batang Toman, Nagari Lingkuang Aua, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat. Wilayah ini merupakan salah satu titik yang babak belur pasca-aktivitas pengambilan material pasir dan sirtu oleh masyarakat.
Aksi yang dikemas dalam "Gerakan Penghijauan Sejuk Asri" ini dikomandoi langsung lewat zoom meeting oleh Kapolda Sumatra Barat, Irjen Pol Gatot Tri Suryanta dari Kota Sawahlunto, dengan mengusung misi besar "Hijaukan Sumbar Kembali".
Sinyal Tegas Kapolda: Polisi Bukan Cuma Tangkap Penjahat
Dalam arahannya, Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta menegaskan bahwa institusi Polri tidak boleh menutup mata terhadap kerusakan ekologi. Gerakan ini, menurutnya, merupakan pengejawantahan langsung dari visi lingkungan hidup yang ditekankan oleh Kepala Negara.
"Program ini sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian lingkungan yang digagas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, untuk mendorong terciptanya ekosistem hijau dan lingkungan yang sehat di Sumatera Barat," tegas Irjen Gatot.
Jenderal bintang dua ini juga mengirimkan sinyal kuat kepada jajarannya. Tugas korps korps baju cokelat kini tidak melulu soal penegakan hukum di meja penyidik, melainkan harus hadir di tengah masyarakat sebagai penyelamat lingkungan.
"Melalui program penghijauan ini, kita harus berkolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat agar kelestarian lingkungan tetap terjaga," tambahnya.
Target 1.000 Pohon Menjelang Hari Bhayangkara ke-80
Sementara itu di tingkat tapak, Kapolres Pasaman Barat AKBP Agung Tribawanto, melalui Kabag Ops Kompol Fahrel Haris, membeberkan bahwa aksi ini bukan sekadar seremonial belaka. Sejak Januari 2026, Polres Pasbar mengklaim telah menanam sedikitnya 1.000 pohon di berbagai zona kritis.
"Setelah kawasan pinggiran Pantai Sasak dan daerah rawan bencana di Talamau serta Luhak Nan Duo, hari ini fokus kita adalah reklamasi di kawasan aliran sungai Batang Toman," kata Kompol Fahrel Haris.
Langkah taktis ini sengaja digenjot menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80, sebagai bukti bakti Polri pada pemulihan alam. Dalam pengadaan bibit, Polres Pasbar menggandeng Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar untuk menyediakan tanaman produktif.
"Jenis pohon yang kita tanam bervariasi, mulai dari pohon penghijauan hingga pohon buah-buahan seperti durian, alpukat, lengkeng, petai, hingga jengkol. Ini agar ke depan ada nilai ekonomis bagi warga sekitar," jelasnya.
Sentilan Reklamasi Pasca-Tambang
Di akhir kegiatannya, Kompol Fahrel memberikan catatan tebal mengenai pentingnya kesadaran pasca-tambang. Ia menantang keseriusan masyarakat dan seluruh stakeholder untuk berkomitmen melakukan pemulihan lingkungan secara berkelanjutan, bukan sekadar mengeruk keuntungan dari perut bumi.
"Pihak Kepolisian bersama masyarakat akan terus melakukan reklamasi penghijauan di kawasan aliran sungai pasca-aktivitas pengambilan material. Kita harus bersinergi, alam ini harus disembuhkan," pungkasnya tajam.(Hms Polres Pasbar)
Editor : Chairur Rahman (Wartawan Madya)
