Mitra Rakyat
Saturday, November 29, 2025, Saturday, November 29, 2025 WIB
Last Updated 2025-11-29T03:59:49Z
Feature

Pagi yang Terang Dengan Luka yang Mengendap

banner 717x904


Penulis : Chairur Rahman


MR.com| Pagi ini matahari memanjat cepat dari balik bukit, menumpahkan cahaya hangat yang terasa seperti bisikan “hari ini akan baik-baik saja.” Langit biru menghampar tanpa cela, seakan menolak mengingat bagaimana seminggu terakhir hujan tak mau berhenti jatuh.


Namun ingatan itu masih basah. Banjir bandang, tanah longsor dan badai yang datang bertubi-tubi belum benar-benar pergi. Di beberapa tempat, bau lumpur masih menguar, bercampur dengan isak yang tak tertangkap kamera.


Ada ibu yang kehilangan anaknya. Ada kakak yang kini memanggil nama adiknya hanya dalam doa. Ada suami yang memeluk pakaian terakhir istrinya sebagai penanda kehadiran yang tak akan pernah kembali. Cerita-cerita yang mungkin kelak menjadi angka dalam laporan resmi, tetapi hari ini masih terasa seperti luka baru yang disentuh angin.


Di kampung-kampung terdampak, suara seret sekop dan gesekan sapu terdengar hampir di setiap halaman. Warga sibuk menyapu lumpur yang menebal, mengangkat perabot yang tersangkut di sudut rumah dan menata kembali ruang yang sempat dikuasai air bah. Setiap percikan lumpur yang jatuh ke tanah adalah penanda bahwa hidup sekali lagi harus dimulai dari nol.


Bencana yang menggerogoti beberapa daerah ini menjadi mozaik dinamika alam sekaligus cermin rapuhnya kehidupan manusia. Di satu sisi, kamera-kamera pencari konten berlomba menangkap momen dramatis, seperti, wajah lelah relawan, arus deras sungai yang mengamuk, hingga detik-detik evakuasi yang menegangkan. Dalam hitungan jam, jutaan like mengalir, menciptakan euforia yang tak selalu sejalan dengan empati.


Di sisi lain, terselip cerita getir yang hanya dibicarakan dengan setengah berbisik. Ada pejabat berjaket rompi dinas yang datang membawa bantuan, tapi sebagian isinya adalah sisa anggaran yang dikurangi di jalan. Senyum mereka lebar dalam siaran langsung, tangan mereka sibuk menepuk pundak warga, tetapi catatan akuntabilitasnya tetap gelap. Kebahagiaan berbalut kesedihan, kepedulian yang terasa seperti panggung.


Sementara itu, hari terus berjalan. Langit semakin cerah, seperti mengajak manusia yang terluka untuk percaya pada hari esok. Tetapi di balik sinar yang hangat itu, kita tahu sebagian dari mereka masih mencari yang hilang, sebagian lain masih menunggu pertanggungjawaban yang entah kapan tibanya.


Alam mungkin kembali tenang. Tetapi luka masyarakat belum tentu dapat tersembuhkan.

Terkini