MR.com, Padang | Di saat masyarakat tengah berjibaku menghadapi tekanan ekonomi, lonjakan harga kebutuhan pokok, dan ancaman inflasi yang belum sepenuhnya reda, sebagian walimurid di Kota Padang justru dihadapkan pada persoalan lain yang tak kalah membebani, yaitu mahalnya iuran acara perpisahan sekolah.
Ironisnya, beban itu muncul dari lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang empati dan pendidikan moral tentang kesederhanaan.
Keresahan para orang tua siswa mencuat setelah beredarnya pesan di grup WhatsApp parenting salah satu SMP Negeri ternama di Kota Padang terkait tambahan dana kegiatan perpisahan siswa kelas IX yang nilainya dinilai fantastis.
Dalam pesan tersebut disebutkan, semula siswa kelas VII dan VIII hanya dibebankan kontribusi Rp3 juta per kelas, sementara kelas IX sebesar Rp7 juta per kelas. Namun setelah penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), dana disebut tidak mencukupi.
Akibatnya, muncul skema baru yang dinilai jauh lebih memberatkan, siswa kelas VII dan VIII diwacanakan membayar Rp100 ribu per siswa, sementara siswa kelas IX dibebankan hingga Rp350 ribu per orang.
Bagi sebagian masyarakat perkotaan dengan ekonomi mapan, angka itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi keluarga menengah ke bawah yang saat ini sedang menghadapi tekanan biaya hidup, nominal tersebut jelas bukan perkara kecil.
“Sekarang harga sembako naik, listrik naik, ekonomi belum stabil. Kok malah muncul iuran perpisahan sampai ratusan ribu. Harusnya sekolah peka dengan kondisi orang tua murid,” ujar salah seorang walimurid kepada media ini, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, acara perpisahan semestinya tidak kehilangan ruh pendidikan. Kesederhanaan justru dianggap lebih mendidik dibanding seremoni mewah yang berpotensi memunculkan kesenjangan sosial di lingkungan sekolah.
“Kalau cuma untuk kenang-kenangan, cukup di aula sekolah atau halaman sekolah saja. Yang penting maknanya, bukan gengsinya,” tambahnya.
Persoalan ini pun memantik diskusi luas di tengah masyarakat. Sejumlah walimurid mulai membandingkan kebijakan sekolah tersebut dengan sekolah lain yang memilih konsep perpisahan sederhana tanpa membebani orang tua.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan adanya pergeseran orientasi dalam dunia pendidikan. Acara perpisahan yang sejatinya merupakan bentuk rasa syukur atas kelulusan, kini perlahan berubah menjadi ajang seremonial berbiaya tinggi.
Padahal, di tengah situasi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat justru berharap institusi pendidikan mampu menjadi contoh pengendalian gaya hidup dan pembelajaran tentang empati sosial.
Pengamat pendidikan menilai sekolah perlu lebih sensitif membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat. Jangan sampai kegiatan non-akademik justru menjadi sumber tekanan psikologis baru bagi orang tua siswa.
“Jangan sampai sekolah kehilangan substansi pendidikan karakter hanya karena terlalu sibuk mengejar kemeriahan acara,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Padang.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun panitia kegiatan belum memberikan keterangan resmi terkait polemik iuran dana perpisahan tersebut.
Sementara itu, sejumlah walimurid berharap kebijakan tersebut dapat ditinjau ulang agar dunia pendidikan tidak semakin jauh dari nilai kesederhanaan dan kepekaan sosial di tengah ancaman inflasi yang masih menghantui masyarakat.
Penulis : Chairur Rahman (Wartawan Madya)
Editor. : Redaksi
