Oleh: Mukhsin
MR.com| Ada pertanyaan yang semestinya tidak berhenti di ruang diskusi media sosial atau menjadi percakapan di warung kopi. Pertanyaan itu justru layak dijawab secara terbuka oleh penyelenggara Hari Jadi Kota Padang 2026.
Mengapa Pawai Telong-Telong dipindahkan dari kawasan Muaro dan Batang Arau , dimana tempat sejarah itu lahir dan mengapa ke Danau Cimpago?
Bagi sebagian orang, perpindahan lokasi mungkin dianggap hanya persoalan teknis penyelenggaraan. Barangkali karena pertimbangan kapasitas, rekayasa lalu lintas, estetika kawasan wisata, atau alasan keamanan.
Namun bagi mereka yang memahami sejarah Kota Padang, pertanyaan tersebut jauh lebih mendasar.
Sebab Telong-Telong bukan sekedar pawai lampu.
Ia adalah simbol kecerdikan perang rakyat Minangkabau.
Ia adalah representasi keberanian masyarakat yang memilih melawan ketika kekuasaan VOC semakin mencengkeram pesisir barat Sumatera.
Dan yang lebih penting, Telong-Telong lahir di ruang sejarah yang nyata dari Muaro dan Batang Arau.
Cahaya yang Menipu VOC
Sejarah mencatat, pada 7 Agustus 1669 rakyat dari Pauh, Koto Tangah, Lubuk Kilangan, dan berbagai nagari lain bersatu melakukan perlawanan terhadap VOC yang ketika itu telah membangun loji perdagangan sekaligus benteng pertahanan di kawasan Muaro.
Mereka tidak datang dengan parade.
Mereka datang dengan strategi.
Di tengah malam, rakyat membawa Telong-Telong atau lampu penerang tradisional yang dari kejauhan tampak seperti arak-arakan masyarakat biasa.
VOC tidak menyadari bahwa di balik cahaya yang bergerak perlahan itu tersimpan pasukan yang tengah menyusun serangan.
Ketika penjagaan lengah, serangan pun dilakukan.
Loji-loji VOC diserbu.
Momentum itu kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting lahirnya Kota Padang.
Karena itulah Telong-Telong sesungguhnya bukan festival cahaya.
Ia adalah simbol operasi penyamaran dalam sebuah perjuangan rakyat.
Ketika Ruang Sejarah Dipindahkan
Di sinilah letak persoalan yang mulai mengundang tanda tanya.
Apakah makna sejarah tetap utuh ketika peringatannya dipindahkan jauh dari lokasi lahirnya peristiwa?
Danau Cimpago memang indah.
Ia merupakan ikon wisata Kota Padang.
Namun Danau Cimpago bukan ruang tempat rakyat menyusun strategi melawan VOC.
Bukan pula lokasi berdirinya loji kolonial.
Bukan saksi bisu lahirnya perlawanan yang kemudian diperingati setiap Hari Jadi Kota Padang.
Jika ruang sejarah dipisahkan dari peristiwanya, maka yang tersisa bukan lagi rekonstruksi sejarah.
Yang muncul adalah pertunjukan.
Sejarah perlahan berubah menjadi hiburan.
Festival atau Pendidikan Sejarah?
Tidak ada yang keliru dengan inovasi.
Tradisi memang harus berkembang agar tetap hidup.
Namun inovasi selalu memiliki batas.
Batas itu bernama identitas sejarah.
Festival budaya memiliki fungsi ekonomi.
Ia mampu menggerakkan UMKM, mendatangkan wisatawan, dan menghidupkan ruang publik.
Tetapi Hari Jadi Kota tidak hanya berbicara mengenai ekonomi.
Ia juga berbicara mengenai memori kolektif.
Jika generasi muda hanya mengenal Telong-Telong sebagai parade lampion di tepi pantai tanpa mengetahui bahwa cahaya itu dahulu merupakan strategi perang melawan kolonialisme, maka sesungguhnya ada bagian penting dari sejarah yang mulai hilang.
Yang diwariskan bukan lagi nilai perjuangan.
Yang diwariskan hanya kemeriahan acara.
Sejarah Bukan Properti Dekorasi
Dalam banyak kota bersejarah di dunia, lokasi peristiwa justru dijaga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peringatannya.
Karena tempat adalah bagian dari narasi.
Bangunan tua dipertahankan.
Benteng dipelihara.
Jalur perjuangan direkonstruksi.
Semuanya dilakukan agar masyarakat tidak sekedar membaca sejarah, tetapi juga merasakan ruang tempat sejarah itu terjadi.
Muaro dan Batang Arau memiliki fungsi yang sama bagi Kota Padang.
Di sanalah jejak perjuangan itu bermula.
Menggeser pusat peringatan dari ruang historisnya tanpa penjelasan yang memadai berpotensi menimbulkan persepsi bahwa aspek estetika lebih diprioritaskan daripada nilai sejarah.
Tentu pemerintah memiliki pertimbangan.
Namun pertimbangan tersebut seyogianya disampaikan secara terbuka kepada publik agar tidak memunculkan kesan bahwa sejarah dapat dipindahkan begitu saja mengikuti kebutuhan penyelenggaraan.
Pemerintah Perlu Menjawab
Pemerintah Kota Padang memikul tanggung jawab yang lebih besar daripada sekedar menghadirkan pesta rakyat.
Hari Jadi Kota merupakan momentum pendidikan sejarah.
Karena itu, masyarakat berhak mengetahui dasar akademik, historis, maupun kebijakan yang melatarbelakangi perubahan lokasi Pawai Telong-Telong tahun 2026.
Apakah telah melibatkan sejarawan?
Apakah ada kajian budaya?
Apakah perpindahan ini bersifat sementara atau akan menjadi pola tetap?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar perubahan tidak dimaknai sebagai pengaburan jejak sejarah.
Merawat Ingatan, Bukan Sekedar Keramaian
Tradisi tidak diukur dari megahnya panggung.
Tidak pula dari banyaknya peserta atau panjangnya barisan pawai.
Tradisi akan tetap hidup apabila mampu menjaga hubungan yang utuh antara sejarah, ruang, dan nilai yang melahirkannya.
Telong-Telong lahir bukan karena kebutuhan hiburan.
Ia lahir dari keberanian.
Ia lahir dari kecerdikan rakyat yang menggunakan cahaya untuk mengecoh penjajah.
Jika cahaya itu kini berpindah dari ruang sejarah menuju panggung festival, maka pertanyaan yang layak direnungkan bersama bukanlah apakah acaranya lebih meriah.
Melainkan, apakah kita sedang memperkuat ingatan kolektif tentang perjuangan para pendahulu, atau justru tanpa disadari mulai melepaskan sejarah dari tempat kelahirannya?
Sebab ketika sejarah kehilangan konteks ruangnya, yang tersisa sering kali hanyalah seremoni. Dan ketika seremoni lebih dominan daripada substansi, generasi mendatang mungkin akan mengenal Telong-Telong sebagai festival cahaya, bukan lagi sebagai simbol kecerdikan rakyat Kota Padang yang pernah menyalakan harapan di tengah gelapnya penjajahan.
