Penulis : Chairur Rahman
MR.com| Pagi masih basah ketika suara langkah para pedagang mulai memenuhi lorong-lorong sempit Pasar Painan. Aroma bawang merah, ikan asin, dan tanah lembap bercampur jadi satu, seolah menjadi kesaksian bisu tentang usia pasar yang kian renta. Di sudut lapak yang catnya mengelupas, Yusnidar seorang pedagang ikan sejak lebih dari dua dasawarsa terlihat mengikat ulang ujung plastik dagangannya sambil sesekali melayangkan pandang ke arah truk pengangkut material yang parkir di depan gerbang.
“Kalau nanti bangunan baru sudah jadi, mungkin kami tidak lagi takut atap bocor,” ucapnya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri. Ia menjadi satu dari ratusan pedagang yang kini bersiap memasuki babak baru pada relokasi sementara menuju proses pembangunan Pasar Painan yang ditargetkan menjadi pusat ekonomi modern di jantung Pesisir Selatan.
Revitalisasi Pasar Painan bukan wacana yang muncul semalam. Selama bertahun-tahun, pasar tradisional yang menjadi nadi perdagangan di kota itu kerap menghadapi keluhan terhadap drainase buruk, bangunan lapuk, atap bocor, hingga tata ruang yang tak lagi memadai. Pemerintah daerah akhirnya mengambil langkah besar untuk merombak total kawasan pasar dengan konsep bangunan baru yang lebih tertata, higienis, dan mampu menampung pedagang dalam jumlah lebih ideal.
“Pasar ini harus menjadi wajah ekonomi kita. Bukan lagi sekadar tempat jual beli, tetapi ruang yang aman, nyaman, dan bernilai,” ujar seorang pejabat dinas yang terlibat dalam perencanaan proyek. Di balik pernyataan optimistis itu, pekerja-pekerja konstruksi sudah sibuk sejak sebelum matahari naik sepenuhnya. Mereka menata tulangan, meratakan lahan, dan menegakkan rangka baja yang kelak menjadi struktur utama bangunan baru.
Di sisi lain, relokasi pedagang menjadi cerita tersendiri. Lokasi penampungan sementara menimbulkan kecemasan pedagang, akankah pembeli tetap datang? Apakah omzet akan turun? Bagaimana persaingan antarpedagang di ruang baru tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi diskusi di kedai kopi pagi, di lorong pasar, hingga di beranda rumah-rumah pedagang.
“Yang kami butuhkan hanya kepastian. Kami mendukung pembangunan, tapi jangan sampai pendapatan kami hilang selama menunggu,” kata Rinal, pedagang sayur yang kini harus membongkar rak-rak lamanya.
Namun proses pembangunan tidak sepenuhnya berjalan tanpa gangguan. Lalu lintas tersendat akibat kendaraan proyek, suara mesin konstruksi menggema hingga siang hari, dan beberapa akses pasar sementara sempat dikeluhkan warga. Meski demikian, sebagian besar pedagang memahami bahwa setiap perubahan butuh harga, setidaknya dalam bentuk ketidaknyamanan sesaat.
Di balik hiruk pikuk proyek, ada harapan yang tumbuh. Pemerintah daerah menargetkan pasar baru ini akan menghidupkan kembali ekonomi Painan. Bukan hanya bagi pedagang, tapi juga bagi pelaku UMKM, nelayan, dan petani yang memasok kebutuhan harian pasar. Pusat distribusi yang lebih tertata diharapkan dapat menekan biaya logistik dan menjaga kestabilan harga komoditas.
Sore hari, ketika matahari mulai turun, Yusnidar kembali merapikan lapaknya. Ia menatap bangunan pasar yang sebentar lagi tinggal kenangan. “Pasar ini sudah jadi rumah saya bertahun-tahun,” katanya. “Kalau nanti sudah jadi baru, semoga rezeki kami pun ikut baru.”
Di hadapannya, rangka baja proyek yang perlahan menanjak tampak memantulkan cahaya jingga senja. Bagi banyak orang, itu hanyalah konstruksi. Tetapi bagi para pedagang, itu adalah janji tentang masa depan yang menjadi ruang baru tempat harapan kembali ditata satu per satu, seperti komoditas yang mereka simpan setiap pagi.
Pasar Painan sedang menata ulang denyutnya. Di antara riuh mesin dan keresahan pedagang, sebuah babak baru sedang tumbuh meski pelan, tapi pasti.

