Penulis : Chairur Rahman
MR.com| Hujan yang turun sejak beberapa hari terakhir di berbagai wilayah Sumatera Barat seolah tidak lagi seperti hujan biasa. Turunnya deras, panjang disertai angin yang menggeram. Sungai-sungai meluap seakan kehilangan sabar dan lereng-lereng bukit yang selama ini gagah menjadi rapuh, ambruk dalam hitungan jam.
Di beberapa nagari, warga terpaksa meninggalkan rumah karena banjir menggenangi pemukiman. Di tempat lain, longsor menutup akses jalan, memutus hubungan kehidupan.
Dibalik gemuruh bencana itu, ada satu tanya yang menggantung di benak banyak orang, apakah ini murni bencana alam, atau teguran yang lebih halus namun keras dari Sang Pencipta..?
Pada Jorong-jorong yang terdampak, masyarakat hanya bisa mengelus dada melihat air keruh yang berlari cepat dari hulu dengan membawa lumpur, batang kayu, bahkan bongkahan tanah.
“Dulu aliran sungai tak seganas ini,” gumam seorang warga di Pauh Kota Padang. “Sekarang setiap hujan deras, kami tak bisa tenang.”
Pernyataan seperti itu bukan satu-dua kali terdengar. Hampir setiap daerah yang dilanda banjir bandang atau longsor di Sumatera Barat menyimpan kisah yang mirip, hutan yang dulu lebat, kini tinggal ingatan, lereng-lereng yang seharusnya teduh oleh akar pohon, kini gundul akibat pembalakan liar, sungai yang dulu jernih, kini membawa jejak kerusakan dari hulu akibat tambang ilegal yang tak kunjung tersentuh penegakan hukum.
Bencana ini, dengan segala kedahsyatannya, seperti membuka tirai yang selama ini ditutup rapat-rapat, bahwa bumi kita telah lama meminta pertolongan.
Para ahli mungkin akan mengatakan bahwa curah hujan ekstrem adalah bagian dari fenomena alam. Bahwa iklim memang berubah. Bahwa sistem meteorologi sedang tidak stabil. Semua pendapat itu tidak salah.
Namun di balik faktor-faktor ilmiah itu, terselip kenyataan yang jauh lebih memilukan, ulah kita sendiri sebagai manusia turut mempercepat kehancuran itu.
Gunung-gunung yang dilukai oleh alat berat, sungai-sungai yang direcoki sedimen tambang, kawasan hutan yang digerogoti demi kayu yang dijual murah, semuanya menjadi catatan panjang betapa sering manusia merasa lebih berkuasa dari alam.
Lebih berhak dari ciptaan lain. Lebih besar dari ketentuan yang mengatur keseimbangan bumi.
Lalu kini, ketika banjir menyapu kebun, longsor menutup jalan dan badai merobohkan rumah, kita tiba-tiba terkejut.
Kita bertanya-tanya mengapa semua ini terjadi..?. Padahal jawabannya sudah lama berdiri di depan mata, kita sendirilah yang merusak tanah tempat kita berpijak.
Di tengah kecemasan ini, sebagian tokoh masyarakat menyampaikan pandangan yang lebih spiritual. Bagi mereka, bencana bukan sekedar fenomena fisik, melainkan peringatan lembut dari Sang Pencipta bahwa moral manusia mulai menjauh dari nilai-nilai yang Ia ajarkan.
“Ketika kita tidak lagi menghargai bumi, itu tanda kita mulai meninggalkan perintah-Nya,” ujar seorang alim ulama di Kota Padang. “Kerusakan alam selalu bertalian dengan kerusakan moral.”
Barangkali benar, barangkali tidak. Namun renungan itu tetap menohok. Kita hidup di tanah yang kaya, namun sering memperlakukannya seperti musuh. Kita menikmati hasil bumi, namun enggan menjaga akar kehidupannya. Kita memohon rezeki dari langit, namun abai pada tanggung jawab menjaga bumi.
Di banyak tempat, warga kini mulai membersihkan sisa lumpur, memperbaiki jalan yang putus dan memperbaiki rumah yang rusak. Namun pekerjaan yang lebih besar sebenarnya menanti, memperbaiki cara kita memandang alam.
Sebab tanpa perubahan sikap, tanpa kesadaran kolektif dan tanpa penghentian praktik-praktik rakus, bahkan doa yang panjang pun mungkin tak cukup menahan datangnya bencana. Musim hujan masih panjang. Tapi semoga musim kesadaran tidak terlambat datang.
Mari kita renungkan sejenak, dengan jujur dalam hati kita bertanya, apakah bencana ini sekedar cuaca atau sebuah pesan yang sedang mengetuk pintu hati kita sebagai manusia..?.

