-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ironi Pasar Raya Padang "Rancak di Labuah, Merana di Dalam"

Monday, February 16, 2026 | Monday, February 16, 2026 WIB Last Updated 2026-02-16T04:30:49Z


Penulis : Mukhsin

MR.com, PADANG | Di tepi jalan utama, Pasar Raya Padang tampak seperti etalase kota yang dipoles untuk tamu. Trotoar yang dirapikan, fasad bangunan yang dicat ulang, serta spanduk penataan kota memberi kesan modern. Seolah pemerintah kota berhasil menunaikan janji mempercantik wajah Padang. Namun, kesan itu hanya bertahan sampai pintu pasar.


Di bagian dalam, lorong-lorong sempit berjejal, genangan air mengendap di lantai dan kabel listrik menjuntai tanpa pengaman. Kios-kios berdempetan, sebagian terbengkalai. Bau lembap bercampur sampah menjadi latar keseharian pedagang dan pembeli. Modernisasi yang dijanjikan terasa berhenti di halaman depan.


Pepatah Minangkabau “Padang rancak di labuah” bagus di depan, kusut di dalam telah kembali menemukan relevansinya. Pasar Raya seolah menjadi metafora kebijakan kota yang sibuk membangun citra, tapi lupa menata substansi.


Relokasi yang Menggantung


Relokasi pedagang digadang-gadang sebagai jalan menuju pasar yang tertib dan manusiawi. Kenyataannya, relokasi justru menghadirkan ketidakpastian baru.


“Kami dipindahkan katanya demi penataan. Tapi di dalam sini kami dibiarkan berjuang sendiri,” kata seorang pedagang pakaian yang enggan disebutkan namanya. “Kalau cuma bagian depan yang bagus, itu menipu mata rakyat.”


Pedagang lain mengeluhkan sepinya pembeli sejak penataan dilakukan. Akses menuju kios semakin sulit, sirkulasi udara buruk dan fasilitas dasar, seperti drainase dan penerangan yang tak kunjung diperbaiki.


“Konsumen malas masuk ke dalam. Panas, sempit, gelap. Kalau hujan, becek. Siapa yang betah?” ujar pedagang bahan pokok yang telah berjualan lebih dari dua dekade.


Kosmetik Perkotaan


Sejumlah pengamat tata kota menilai penataan Pasar Raya lebih bernuansa kosmetik. Pemerintah kota terlihat fokus pada ruang yang mudah terlihat publik dan tamu, sementara ruang ekonomi rakyat diabaikan.


Monumen yang Salah Arah


Pasar Raya selama ini bukan sekedar pusat jual beli. Ia adalah ruang sosial, simpul ekonomi rakyat dan penanda sejarah kota. Jika penataan hanya berhenti pada fasad, Pasar Raya berisiko berubah menjadi monumen kegagalan manajemen kota yang indah di permukaan, rapuh di inti.


Di tengah retorika kota modern, para pedagang menunggu satu hal sederhana yakni kepastian. Bukan sekedar trotoar yang rapi, tapi pasar yang layak hidup.

×
Berita Terbaru Update