-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tangis PKL Jelang Ramadhan Usai Penertiban Jalur Air Mancur–Permindo

Friday, February 13, 2026 | Friday, February 13, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T02:45:13Z


Penulis :  Mukhsin

MR.com, PADANG | Trotoar di jalur Air Mancur hingga Permindo kini bersih. Tapi juga senyap. Lapak-lapak yang dulu rapat berjejal, kini tinggal jejak cat semprot dan bekas papan kayu yang tertinggal di sudut-sudut trotoar. Di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi jantung perniagaan Kota Padang itu, denyut ekonomi mendadak terhenti.


Sejak kebijakan pelarangan berdagang bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) diberlakukan, suasana Pasar Raya seperti kehilangan nadi. Sudah hampir dua pekan aktivitas jual beli menghilang. Pedagang yang biasanya memadati jalur Air Mancur hingga Permindo tak lagi terlihat. Yang tersisa hanya pejalan kaki yang melintas cepat dan toko-toko permanen yang tetap buka dengan pelanggan jauh berkurang.


“Sudah 12 hari kami tidak jualan. Biasanya menjelang puasa begini pembeli ramai sekali. Sekarang kosong,” kata Rina (45), pedagang pakaian yang selama belasan tahun menggantungkan hidup di trotoar Permindo. Matanya berkaca-kaca saat bercerita tentang biaya sekolah anak dan cicilan motor yang tetap harus dibayar.


Pukulan Menjelang “Musim Panen”


Bagi pedagang kecil, Ramadan hingga Lebaran adalah musim panen. Permintaan pakaian, makanan, dan kebutuhan rumah tangga melonjak tajam. Dalam beberapa pekan itu, sebagian besar pedagang bisa menutup kerugian sepanjang tahun. Tapi tahun ini, momentum itu lenyap bahkan sebelum datang.


“Kami bukan tidak mau tertib. Tapi kalau langsung dilarang tanpa solusi, kami harus makan dari mana?” ujar Arman (52), pedagang aksesori ponsel yang kini hanya duduk di emper toko, menunggu kemungkinan pelanggan lama datang.


Efek Domino Ekonomi


Pengamat ekonomi perkotaan Universitas Andalas, Yulhendri, menyebut kebijakan penertiban PKL tanpa skema relokasi yang matang berpotensi menciptakan efek domino. “PKL itu bukan sekadar pedagang informal. Mereka bagian dari ekosistem ekonomi pasar. Jika mereka hilang, perputaran uang juga ikut turun,” katanya.


Ia memperkirakan kawasan Pasar Raya bisa kehilangan perputaran uang harian hingga ratusan juta rupiah. Dampaknya tidak hanya ke pedagang kaki lima, tetapi juga toko permanen, jasa angkut barang, hingga tukang parkir.


Tekanan Psikologis Pedagang


Di balik statistik ekonomi, ada tekanan psikologis yang tak terlihat. Sejumlah pedagang mengaku mulai mengalami gangguan tidur dan kecemasan berlebihan. Cicilan bank, sewa rumah, dan kebutuhan sekolah anak menumpuk, sementara pemasukan nol.


“Kalau begini terus, Lebaran nanti mungkin kami tidak bisa beli baju anak. Makan pun pas-pasan,” kata Rina lirih.


Antara Ketertiban dan Keadilan


Pemerintah Kota Padang beralasan penertiban dilakukan demi ketertiban kota dan kenyamanan pejalan kaki. Namun pedagang menilai kebijakan itu terlalu kaku dan tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil.


Mereka berharap pemerintah memberikan diskresi zona waktu berdagang, relokasi strategis, atau penataan ulang yang tidak mematikan usaha. “Kami tidak minta gratis. Kami hanya minta diatur, bukan dihilangkan,” ujar Arman.


Lebaran yang Suram?


Jika tak ada solusi cepat, ratusan keluarga pedagang Pasar Raya terancam menghadapi Ramadan dan Idul Fitri tanpa penghasilan. Di kota yang dikenal dengan denyut perdagangan yang hidup, Pasar Raya kini justru terasa seperti kota mati.


Di sudut trotoar Permindo, sebuah spanduk lusuh tertinggal, “Maaf, kami pindah.” Tapi ke mana mereka harus pindah, tak seorang pun tahu.

×
Berita Terbaru Update