MR.com, PADANG | Publik di Padang dibuat tercengang. Sebuah lift milik Dinas Perdagangan Kota Padang yang terpasang di Gedung Orange Blok III Lantai 5 Pasar Raya dilaporkan raib, diduga digondol maling, pada Rabu (1/4/2026).
Yang lebih mencengangkan, aset negara bernilai fantastis itu baru diketahui hilang saat aktivitas kantor dimulai pada pagi hari. Fakta ini langsung memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Bagaimana mungkin sebuah lift yang bukan barang kecil, melainkan fasilitas besar yang terpasang permanen tiba-tiba bisa lenyap tanpa jejak?
Salah seorang kepala bidang di Dinas Perdagangan mengungkapkan, akibat kejadian tersebut negara diperkirakan mengalami kerugian mencapai Rp1,5 miliar.
“Kerugian negara diperkirakan sekitar Rp1,5 miliar,” ujarnya kepada wartawan.
Nilai kerugian yang tidak sedikit membuat kasus ini sulit dipandang sebagai pencurian biasa. Hilangnya fasilitas publik berukuran besar justru membuka ruang spekulasi lebih luas, mulai dari lemahnya sistem pengamanan aset, longgarnya kontrol akses keluar-masuk gedung, hingga dugaan kelalaian serius dalam pengawasan internal.
Secara logika, pembongkaran lift membutuhkan waktu, tenaga ahli, serta peralatan teknis yang tidak sederhana. Artinya, publik menilai kecil kemungkinan peristiwa ini terjadi tanpa adanya celah besar dalam sistem keamanan.
Sorotan pun mengarah pada standar pengamanan di kawasan Pasar Raya. Apakah gedung tersebut telah dilengkapi CCTV aktif? Apakah ada petugas jaga malam? Bagaimana dengan buku kontrol teknisi dan pencatatan aset?
Jika seluruh instrumen itu berjalan sebagaimana mestinya, hilangnya lift seharusnya dapat terdeteksi lebih dini, bukan justru diketahui setelah aset benar-benar lenyap.
Kasus ini juga memunculkan pertanyaan krusial dilingkungan publik, apakah murni pencurian, atau ada persoalan lain dalam tata kelola aset yang belum terungkap ke publik?
Sebagai aset bernilai miliaran rupiah, hilangnya lift ini berpotensi menjadi pintu masuk audit lebih luas terhadap pengelolaan fasilitas di lingkungan pemerintah daerah. Transparansi menjadi kunci agar kepercayaan publik tidak semakin terkikis.
Peristiwa ini jelas menjadi tamparan keras. Sebab yang hilang bukan sekadar barang, melainkan simbol lemahnya pengawasan terhadap aset yang dibiayai oleh uang rakyat.
Hingga berita ini diterbitkan media masih dalam tahap mengumpulkan data dan informasi serta upaya konfirmasi pihak terkait lainnya.
Penulis : Mukhsin
Editor : Redaksi
