Penulis : Mukhsin
MR.com | Gelaran Teacher Summit yang digagas Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA dan SMK Provinsi Sumatera Barat menuai pertanyaan. Di tengah semakin kompleksnya persoalan yang membelit dunia pendidikan, forum yang semestinya menjadi ruang membedah problem guru justru lebih menonjolkan pendekatan motivasional.
Pertanyaan sederhananya: ketika guru membutuhkan perlindungan, mengapa yang ditawarkan justru motivasi?
Persoalan ini bukan berarti menafikan pentingnya motivasi bagi tenaga pendidik. Guru tetap membutuhkan penguatan mental dan semangat dalam menjalankan tugas. Namun, menjadikan motivasi sebagai jawaban utama atas persoalan guru berisiko menyederhanakan masalah pendidikan yang sesungguhnya jauh lebih struktural.
Guru hari ini tidak hanya berhadapan dengan tuntutan meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka juga menghadapi persoalan perundungan di sekolah, konflik dengan orang tua siswa, tekanan sosial, perubahan kebijakan, hingga sengketa yang dapat berujung pada proses hukum ketika tindakan pembinaan terhadap peserta didik dipersoalkan.
Dalam kondisi seperti itu, problem utama guru bukan semata-mata kehilangan semangat.
Problemnya adalah rasa aman
Guru membutuhkan kepastian bahwa ketika menjalankan tugas profesional sesuai aturan, negara dan institusi pendidikan tidak membiarkan mereka menghadapi persoalan sendirian.
Di lapangan, kewenangan pedagogis guru juga menghadapi tantangan serius. Ketika tindakan disiplin ditafsirkan secara berbeda oleh orang tua, masyarakat, bahkan aparat, guru dapat berada dalam posisi defensif meskipun tujuan awalnya adalah mendidik.
Jika situasi semacam ini terus berlangsung, maka yang tergerus bukan hanya keberanian guru dalam mengambil keputusan, tetapi juga wibawa profesi pendidik.
Di sinilah Teacher Summit seharusnya tidak berhenti pada panggung motivasi. Forum yang menghimpun para pendidik dan kepala sekolah semestinya mampu mengangkat persoalan konkret yang mereka hadapi sehari-hari.
Misalnya, bagaimana mekanisme perlindungan hukum terhadap guru ketika terjadi sengketa dengan orang tua siswa? Sejauh mana sekolah wajib memberikan pendampingan? Bagaimana memastikan tindakan pembinaan tidak serta-merta dipersepsikan sebagai kekerasan? Dan siapa yang bertanggung jawab ketika guru menghadapi tekanan hukum akibat menjalankan tugasnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih mendesak daripada sekedar bagaimana membuat guru kembali bersemangat.
Motivasi memang bisa membangkitkan energi. Tetapi motivasi tidak otomatis memberikan pendampingan hukum. Motivasi tidak mengubah regulasi. Motivasi juga tidak menyelesaikan konflik antara guru dan orang tua siswa.
Karena itu, jika Teacher Summit ingin benar-benar memberi dampak, agenda semacam ini perlu diarahkan menjadi ruang konsolidasi profesi. Bukan hanya menghadirkan motivator, tetapi juga menghadirkan pakar hukum pendidikan, organisasi profesi, praktisi pendidikan, psikolog, serta pemangku kebijakan untuk membahas persoalan guru secara terbuka.
Pemerintah daerah dan dinas pendidikan juga perlu menjadikan perlindungan guru sebagai bagian dari kebijakan, bukan sekedar slogan dalam forum seremonial.
Sebab, guru yang terus-menerus diminta bekerja dengan penuh dedikasi tetapi merasa tidak terlindungi pada akhirnya akan memilih jalan paling aman, dengan cara diam, menghindari resiko, dan enggan mengambil keputusan yang sebenarnya diperlukan dalam proses pendidikan.
Jika itu yang terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nasib guru. Kualitas pendidikan juga ikut menjadi korban.
Karena itu, Teacher Summit Sumatera Barat patut didorong naik kelas. Jangan sampai forum yang membawa nama guru justru berhenti pada tepuk tangan dan kalimat-kalimat inspiratif.
Guru tidak cukup hanya diberi motivasi untuk menjadi kuat.
Mereka membutuhkan sistem yang membuat mereka tidak takut ketika menjalankan tugas.
Pada akhirnya, ukuran keberpihakan terhadap guru bukan seberapa meriah seminar digelar atau seberapa terkenal motivator yang dihadirkan. Ukurannya jauh lebih sederhana, apakah negara hadir ketika guru membutuhkan perlindungan?
Jika jawabannya belum, maka problem pendidikan bukan kekurangan motivasi.
Problemnya adalah sistem yang belum cukup kuat melindungi orang-orang yang setiap hari diminta mencerdaskan bangsa.
