-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Gedung Dibangun Mahasiswa Masih Berburu Ruang, Ada Apa dengan Prioritas Anggaran ISI Padang Panjang?

Friday, September 4, 2026 | Friday, September 04, 2026 WIB Last Updated 2026-09-04T02:52:22Z


MR.com, PADANG PANJANG | Ada paradoks di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Pembangunan fisik terus menjadi bagian dari wajah kampus, tetapi di saat bersamaan mahasiswa masih mengeluhkan keterbatasan ruang belajar, ruang praktek, peralatan hingga pemeliharaan gedung.


Mahasiswa tidak mempersoalkan pembangunan.


Yang mereka pertanyakan adalah prioritasnya. Sebab jika anggaran pembangunan terus digelontorkan, sementara kebutuhan dasar mahasiswa belum sepenuhnya teratasi, publik tentu berhak bertanya, apakah perencanaan pembangunan kampus sudah benar-benar berbasis kebutuhan akademik?.


Baca : Bungkam Soal Dugaan Perjalanan ke Luar Negeri dengan Dosen UNP, Sikap Rektor ISI Padangpanjang Tuai Sorotan 


“Pembangunan kami dukung karena memang dibutuhkan. Tetapi kalau pembangunan tidak selesai dan tidak ada kejelasan, mahasiswa juga yang merasakan dampaknya,” ujar seorang mahasiswa saat berorasi di lapangan basket kampus, Kamis (3/9/2026).


Di Program Studi Fotografi, mahasiswa mengaku masih harus berburu ruang kelas kosong untuk kegiatan akademik.


“Di Fotografi kami sering menumpang dan mencari kelas kosong. Apakah itu namanya adil dan merata?” ujarnya.


Sementara mahasiswa Seni Musik mempertanyakan pembatasan ruang latihan pada malam hari. Padahal, latihan ansambel, kelompok maupun orkestra merupakan bagian penting dari proses pendidikan mereka.


“Waktu yang bisa kami gunakan untuk latihan justru malam. Tetapi ketika kami latihan, kami diminta keluar,” ungkap mahasiswa.


Persoalan lain muncul di Program Studi Televisi dan Film. Sejumlah peralatan praktek disebut telah lama digunakan dan membutuhkan pembaruan.


Di tengah perkembangan teknologi industri kreatif yang begitu cepat, pertanyaannya menjadi lebih serius.


Apakah perangkat praktek yang tersedia masih mampu mencetak lulusan dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri?


Belum selesai soal peralatan, mahasiswa juga menyoroti kondisi sejumlah gedung, mulai dari kebocoran, lantai terkena tetesan air hingga fasilitas toilet yang dinilai belum memadai.


Jika keluhan tersebut benar dan terjadi berulang, maka persoalannya tidak lagi semata pembangunan.


Pemeliharaan aset kampus juga patut dipertanyakan. Di sinilah publik membutuhkan transparansi.


Berapa anggaran pembangunan fisik yang dialokasikan? Proyek apa saja yang sedang berjalan? Mengapa ada pembangunan yang disebut belum tuntas? Berapa anggaran pemeliharaan? Berapa untuk pengadaan peralatan praktik? Dan apakah kebutuhan masing-masing program studi benar-benar menjadi dasar penyusunan prioritas?


Pertanyaan tersebut semakin relevan karena pembangunan perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti pada capaian fisik.


Gedung adalah sarana. Mahasiswa adalah penerima manfaatnya.


Jika bangunan bertambah tetapi mahasiswa masih kesulitan mendapatkan ruang praktek, ruang latihan dan perangkat pembelajaran yang memadai, maka indikator keberhasilan pembangunan patut dievaluasi.


Jangan sampai pembangunan hanya terlihat megah dari luar, sementara persoalan akademik masih tertinggal di dalam.


Kini pimpinan ISI Padang Panjang ditunggu penjelasan terbuka.


Bukan sekedar apakah pembangunan berjalan, tetapi apakah setiap rupiah anggaran benar-benar diarahkan untuk memperkuat proses pendidikan.


Sebab pertanyaan mahasiswa sebenarnya sederhana, Pembangunan ini sedang mengejar bertambahnya gedung, atau meningkatnya kualitas pendidikan?.


Hingga berita ini diterbitkan media masih menunggu klarifikasi dari Rektor ISI Febri Yulika dan masih dalam tahap mengumpulkan data informasi serta upaya konfirmasi pihak terkait lainnya.


Editor  : Chairur Rahman 


×
Berita Terbaru Update